Opini  

Berbicara yang didengar oleh Pendengar

Pendeta Perempuan HKBP
Pendeta Perempuan HKBP

Opini – Entah kenapa saya ingin menyampaikan tentang sesuatu hal yang saya sendiri belum menguasai dengan benar. Bahkan dapat di katakana bahwa pengetahuan tentang “berbicara / komunikasi” yang saya miliki ini hanyalah sebuah teori saja. Tapi toh ini sebuah buah pikiran saya belaka, kalau tidak di tuangkan lantas apa gunanya blog ini di buat. Saya mencoba menyampaikan buah pikiran “tentang seni berbicara” yang menurut saya sih oke aja untuk saya, namun tidak menutup kemungkinan jika menurut anda tidak oke. Toh hanya menyampaikan buah pikiran saja dan bisa saja di masa mendatang dapat lebih berkembang dengan baik.

Banyak hal buku menuliskan tentang ilmu berbicara, ilmu berkhotbah, atau ilmu pidato. Namun semua metode berbicara yang canggih tidak ada artinya jika tidak di dengar oleh pendengar. Akan lebih enak jika dikatakan Ilmu berbicara yang di dengar pendengar. Banyak tokoh-tokoh yang ahli berbicara seperti Martin Lurher, Abraham Lincoln, Yong Gi Cho, Billy Graham atau yang dari Indonesia, Soekarno Ex Presiden Indonesia. dan masih banyak lagi yang lainnya. Mereka semua adalah ahli berbicara/pidato karena dapat mempengaruhi massa.

Penulis saat ini masihlah dalam pembelajaran dan bukanlah seorang yang ahli dalam berbicara namun yang ingin di sampaikan bahwa sangatlah penting memiliki keahlian berbicara khususnya untuk mereka yang menyebut dirinya telah Lahir Baru. Karena mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, miskin atau kaya, pandai atau tidak, laki atau perempuan, siapapu kita adanya di tuntut untuk menjalankan Missi Ilahi yakni jadikanlah semua bangsa muridku (Mat 28:19). yang artinya, siapapun kita telah di bekali dengan ilmu berbicara, baik berbicara lewat bibir ataupun dengan bahasa tubuh lewat perbuatan. Namun kita yang tidak bisu, maka Tuhan telah menganugerahkan lidah kita untuk berbicara. Masalahnya bukanlah tidak pandai berbicara tapi tidak mengerti cara berbicara yang didengar pendengar.

Beberapa hal yang pernah saya pelajari supaya kita bisa belajar dan terus belajar dalam menyampaikan yang ada dalam kepala kita lewat bibir, adalah sebagai berikut.

1. Kuasai yang akan disampaikan

Setiap yang akan disampaikan haruslah di kuasai betul, sebagaiman seorang guru menyampaikan pengajaran kepada murid maka sang guru harus menguasai ilmu yang akan di sampaikan tersebut, supaya nanti jika si murid bertanya maka sang guru dapat menjawab dengan baik. Demikian sebaliknya sang murid dapat mengajarkan kepada gurunya jika sang murid mempunyai pengetahuan yang berbeda dari si guru dan pengetahuannya itu dapat di pertangung jawabkan, artinya jika ada pertanyaan dari sang guru maka si murid dapat menjelaskan dengan baik. Karena jaman sekarang banyak murid yang lebih dalam pengetahuan dari pada gurunya. Jadi Topik yang akan di bicarakan dan di sampaikan haruslah dikuasai benar.

2. Fokus

Jangan keluar dari topic yang di bicarakan. Jika berbicara mengenai “Keselamatan “ maka fokuslah tentang pembahasan tersebut jangan keluar dari topic yang nanti arahnya akan semakin jauh.

3. Kenali lawan bicara

Seorang Salesman haruslah dapat menjual produknya kepada sasaran yang tepat. tidak mungkin menjual peralatan bayi kepada Bapak2 atau Anak2. Maka untuk produk peralatan bayi maka harus di sampaikan kepada ibu2. Tentunya seorang Salesman harus mempelajari karakter seorang ibu, kebiasaan seorang ibu, dll. Maka jika ingin menyampaikan tentang Firman Tuhan pun haruslah mengerti kepada siapa kita berbicara, apakah kepada orang Kristen KTP, atau kepada seorang yang belum mengenal Kristus, atau kepada orang yang lahir baru, atau kepada orang Kristen yang telah dewasa rohani.

4. Kenali akan kapasitas Diri Sendiri

Tiap orang dapat mengetahui akan kapasitas kemampuan dirinya. Dan tiap orang dapat mengetahui akan panggilannya dalam melayani. Jika seseorang memiliki karunia musik maka dapat berbicara kepada orang lain yang menaruh minat terhadap musik sehingga dapat berbicara dan melayani orang tersebut melalui musik. Misalkan saja dalam hal menyampaikan musik yang berkenan kepada Allah dan musik yang menyesatkan. Ada satu contoh ; seorang anak Tuhan yang lahir baru sangat rindu untuk memberitakan injil, sangking semangatnya maka targetnya tidak tanggung-tanggung ingin menginjili WTS. Sesampainya di lokasi dan setelah bertemu si WTS yang selalu menggoda, akhirnya bukanlah si anak Tuhan lahir baru ini yang membawa WTS ke sorga tapi sebaliknya malah dia di bawa ke neraka.

5. Berbicaralah dengan santun

Ada 3 type cara berbicara yang salah ; Pertama, Orang yang berbicara cepat karena ingin menuangkan semua isi kepalanya, hal itu membuat apa yang ingin disampaikan tidak lah sepenuhnya di ucapkan dan ada yang terlupakan sehingga tidak lengkap apa yang ingin di sampaikan. Berbicara dengan cepat membuat pendengar tidak dapat mengerti sepenuhnya karena baru mencerna 10 kata tapi yang di sampaikan sudah 50 kata. Penghotbah yang berhotbah dengan cepat terkadang yang dapat di mengerti hanya yang lucu-lucunya saja.

Kedua, orang yang berbicarara kerlalu banyak kata “eee…”, misalkan : “Saudara-saudara yang terkasih dalam Tuhan …eee… seperti yang kita semua ketahui..eeee… bahwa akhir zaman sudah dekat… eee…” hal ini mengganggu pendengar yang sedang mendengarkan. Jadi pendengar lebih focus kepada kata “eee” dari pada kalimat yang di sampaikan

Ketiga, orang yang berbicara seperti membaca. Terkadang ada orang berbicara dengan membaca tapi jelas terdengar dan artikulasi nya juga jelas seperti pembawa berita di televise, mereka semua menyampaikan berita dengan membaca. Namun ada yang menyampaikan tanpa bacaan tapi cara menyampaikannya di eja seperti membaca sehingga nada tempo nya datar dan pendengar akan bosan mendengarkan sehingga nyaris tidak ada yang dapat di simak.

6. Berbicara yang baik adalah dengan jeda.

Kenapa memakai jeda??? Keuntungan menyampaikan dengan jeda membuat pembicara menguasai kalimat yang di sampaikan itu baik, mengetahui apa yang akan di sampaikan selanjutnya dengan teratur, menguasai artikulasi dengan jelas, menguasai tempo dengan benar, jika pada saat ingin menyampaikan dengan meledak-ledak untuk suatu topic yang penting setelah sampai pada klimaksnya maka di mulai dengan jeda. Pada saat ingin menyampaikan dengan tekanan tempo melambat untuk mempertegas kalimat maka di akhiri dengan jeda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.